AssalĂ mu ‘alaikum

Tidak akan pernah ada manusia yang hidup kekal di dunia. Fir’aun sekalipun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, tetap saja tak kuasa menahan takdir dan kehendak-Nya. Tapi sungguh mengherankan, tatkala banyak manusia yang mengikuti jejak fir’aun dengan menjadikan harta, pangkat dan jabatan sebagai Tuhannya. Mereka nyaris tidak peduli bahwa semua itu hanyalah hiasan yang menempel sementara.

Sadarkah manusia bahwa mereka sesungguhnya telah melakukan perjanjian dengan Allah swt tentang keesaan Tuhannya, sebelum lahir ke dunia?

Allah swt berfirman: “Dan ingatlah (hai muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan (menciptakan) keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari diri mereka sendiri dengan firman-Nya, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengakui.” Nanti di hari kiamat kamu tidak dapat lagi mengatakan, sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini (keesaan Allah), atau agar kamu tidak mengatakan, sesungguhnya bapak orang-orang tua kami dahulu yang mempersekutukan Tuhan dan kami keturunan (generasi) sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami lantaran perbuatan orang-orang yang sesat (dahulu itu) ? .” (QS. Al A’raf : 172-173)

Ayat tersebut menerangkan bahwa seluruh manusia pernah melakukan persaksian dengan Allah swt. Pengalaman luar biasa ini tertanam dalam jiwa manusia dan menjadi fitrah bagi kehidupannya. Artinya, ada sebuah pertanggung jawaban yang harus dilakukan manusia setelah habis masa keberadaannya di dunia.

Nabi Mumammad saw mengibaratkan, “manusia di dunia ini tertidur, dan jikam mati mereka baru terjaga.”

Rangkaian dalil tersebut cukup jelas bagi kita untuk merenungkan kembali dari mana dan ke mana kita akan kembali. Dan sekarang sudah selayaknya bagi kita sebagai umat yang beriman untuk terus menerus melakukan intropeksi diri. Upaya konkrit yang bisa kita lakukan adalah,

Pertama, Jangan pernah berharap selain kepada-Nya. Kedua, belajar untuk terus bersyukur atas ni’mat Allah swt, agar terhindar dari kesombongan yang bisa menjerumuskan manusia ke dalam kemusyrikan. Dan yang ketiga, kenali diri sebagai upaya untuk mengenal lebih jauh Ilahi Rabbi.

Demikian postingan yang singkat ini sebagai pengantar kita merenung dan mengintropeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, semoga bermanfaat.
WassalĂ mu ‘alaikum.
.

Facebook Comments